Info Terbaru
Loading...
23 November 2014

Cerita Abu Nawas Lolos dari Maut

Minggu, November 23, 2014
Cerita Abu Nawas Lolos dari Maut
Cerita Abu Nawas Lolos dari Maut - Benarlah peribahasa yang berbunyi: "Sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terpeleset."
Kini, Abu Nawas benar-benar
mati kutu. Sebentar lagi ia akan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan ulama Baginda.
Benarkah Abu Nawas sudah
keok? Kita lihat saja nanti.
Banyak orang yang merasa
simpati atas nasib Abu Nawas, terutama orang-orang miskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata para pecinta dan pengagum Abu Nawas tak akan mampu menghentikan hukuman mati yang akan dijatuhkan.


Baginda Raja Harun Al Rasyid
benar-benar menikmati
kernenangannya. Belum pernah Baginda terlihat seriang sekarang.
Keyakinan orang banyak
bertambah mantap. Hanya satu orang yang tetap tidak yakin bahwa hidup Abu Nawas akan berakhir setragis itu, yaitu istri Abu Nawas.
Bukankah Allah Azza Wa Jalla
lebih dekat daripada urat leher.
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah. Dan kematian adalah mutlak urusan-Nya.
Semakin dekat hukuman mati bagi Abu Nawas. Orang banyak semakin resah. Tetapi bagi Abu Nawas malah sebaliknya.
Semakin dekat hukuman bagi dirinya, semakin tegar hatinya.
Baginda Raja tahu bahwa
ketenangan yang ditampilkan
Abu Nawas hanyalah merupakan bagian dari tipu dayanya. Tetapi Baginda Raja telah bersumpah pada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya.
Sebaliknya Abu Nawas juga
yakin, selama nyawa masih
melekat maka harapan akan
terus menyertainya. Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta ini tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yang bagaimanapun gawatnya. Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu.
Seketika suasana menjadi
hening, sewaktu Baginda Raja memberi sambutan singkat tentang akan dilaksanakan hukuman mati atas diri terpidana mati Abu Nawas.
Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakan permintaan terakhir Abu Nawas. Dan pertanyaan inilah yang paling dinantinantikan Abu Nawas. “Adakah permintaanmu yang terakhir?”
“Ada Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas singkat.
“Sebutkan.” kata Baginda.
“Sudilah kiranya hamba
diperkenankan memilih hukuman mati yang hamba anggap cocok wahai Baginda yang mulia?” pinta Abu Nawas.
“Baiklah.” kata Baginda menyetujui permintaan Abu Nawas.
“Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar, hamba bersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah, maka hamba dihukum gantung saja.” kata Abu Nawas memohon.
“Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting pun engkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana.” kata Baginda sambil
tertawa.
“Hamba tidak bersenda gurau Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas bersungguhsungguh.
Baginda makin terpingkal-
pingkal. Belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa, Abu Nawas berteriak dengan nyaring. “Hamba minta dihukum pancuuung..!!!”
Semua yang hadir kaget. Orang banyak belum mengerti mengapa Abu Nawas membuat keputusan begitu. Tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkap sesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda yang semula berderai-derai mendadak terhenti. Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Abu Nawas. Baginda Raja tidak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuan rakyatnya. Beliau sudah terlanjur mengabulkan Abu Nawas menentukan hukuman mati yang paling cocok untuk dirinya.
Kini kesempatan Abu Nawas
membela diri. “Baginda yang
mulia, hamba tadi mengatakan bahwa hamba minta dihukum pancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi di manakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba telah memilih hukuman pancung?”
Olah kata Abu Nawas memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang. Benar benar luar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintar selain Abu Nawas di negeri Baghdad ini.
“Abu Nawas aku mengampunimu karena tak ada letak kesalahanmu dan pilihanmu benar, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini. Berapa banyakkah bintang di langit?”
“Oh, gampang sekali Tuanku.”
“Iya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar?” tanya Baginda.
“Bukan Tuanku, tapi cuma
sebanyak pasir di pantai.”
“Kau ini…. bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai?”
“Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit, Tuanku?”
“Ha ha ha ha ha…! Kau memang penggeli hati. Sesungguhnya kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas, mulai sekarang jangan segan-segan, sering-seringlah datang ke istanaku. Aku ingin selalu mendengar lelucon leluconmu yang baru!”
“Siap Baginda !”

(SELESAI)
loading...

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda
• Gunakanlah bahasa yang sopan dalam berkomentar
• Dilarang melakukan SPAM
• Dilarang menggunakan link
• Dilarang promosi dalam kotak komentar (jika ingin memasang iklan silahkan hubungi kami)

 
Toggle Footer